Yogya itu Kuburan Juga

Yogya Itu Kuburan JugaGempa buas tiba-tiba meregut jantung bumi
Hujan resah membasahi hati
Hampa kasih meracun sukma
Bunga-bunga lalang terliung lelah
Langit pedih dan lara
Koyak moyak sudah jiwa raga
Mengenang: Yogya itu kuburan juga!
Lalu sepilah seluruh rimba hati
Di tengah gelegak senja
dan kemusnahan diri; lalu seketika
Semua tak bernadi
Kebanggaan dan senandung murni
Kesayangan dan debaran ngeri - semua sekali
Kerana gempaan dalam gempaan
Tiada siapapun menguasai bumi
O, malam kelam fikiran insan
O, kebingungan yang muncul dari kabut ketakutan
O, rasa putus asa yang terbentur sangkur
Bau hanyir darah yang kini memenuhi udara
Ya Rabbi
Di sebalik kaca mata ini
Mengalir air mata mengenang saudara kita
Cadar kabut dukacita menutup wajah Yogya
Padi tumbuh tapi layu jadi debu
Keringat mengalir kering jadi debu
Angin musim cuma membawa hujan debu
Dalam tidurpun mimpi kini
Tak bisa lari dari debu, debu...
Mengenang Yogyakarta yang kini menjadi kuburan juga
Orang-orang kurus
Yang bayangannya juga kurus
Menadahkan tangan mereka
Ke langit
Dengan desah nafas yang tertahan
Doa-doa melambung ke udara
Bagai ribuan balon gas menghambur ke cakrawala
Mengetuk-ngetuk pintu langit
Menggetarkan awan-awan yang kering hujan
"sampai bilakah kami
harus terus begini
kering tulang kami
susut perut kami
sementara bumi sudah lama tak akrab lagi ?"
O, wajah-wajah suram tergores kering airmata
Pintalah pada politisi, cukong-cukong dan raja-raja
Berikan tatawarna tanda kepercayaan
Berikan hak kaisar kepada kaisar
Pulangkan hak Tuhan kepada Tuhan
Ya Rabbi, semua ini telah berlalu
Tapi masih ramai yang termengu
Apakah perginya hanya mimpi yang tragis
Atau tragedi yang mimpi atau
Saling berbalah keduanya
Ya Rabbi
Setangkup doa di tangan ini
Kupersembahkan kepadaMu sebagai permohonan
Perkenankanlah kepada kekaisaran
Dari benih cinta kasih yang tertanam dalam sanubari
Kami tafakur dalam zikir lantunan istigfar
Berikanlah Yogya kedamaian
Tawa-tawa dan senyum-senyuman
Sambutlah dengan penuh kasih sayang
Sebab penerimaan dariMu kunantikan
Bersama jatuhnya renyai hujan pagi
Atau pada embun di bibir melati
Yogya, menangislah mengenang nasibmu yang duka
separuh laramu kurasa sudah!
YELDERIN MUJAHED
"Lelaki Penunggang Gelombang"
Kamar Panrita Muda - 240706, 4.50pg