| |
| |
::aWaL KaLaM::
|
| |
Sebuah blog, suatu pendokumentasian, seorang pengarang, berjuta-juta kata dan hanya satu idea: kebebasan berfikir Islami di angkat menjadi tema besar blog yang
bersifat NGI (Non Govermental Individual) ini.
Penulis hanya berhasrat menjadikan blog ini sebagai tempat untuk mendokumenkan pendapat, luah rasa, pengalaman dan wadah berkongsi ilmu.
Sesungguhnya penulisan di dalam blog ini merupakan pendapat peribadi penulis tanpa di pengaruhi oleh mana-mana pihak atau organisasi. |
|
| |
::iNFoRMaSi TeRKiNi:: |
|
|
| |
::PaRa BLogGeR:: |
| |
|
| |
::aGaK MeNaRiK:: |
| |
|
|
lintas lalu Muktamar PEPIAT
Sambutan Ketua Umum PB-HMI Dalam Pembukaan Konferensi Pelajar Islam se-Asia Tenggara
Asssalamualaikum Wr. Wb. Yang kami hormati, Bapak KH Abdurahman Wahid, mantan Presiden Republik Indonesia, Bapak Adyaksa Daud, Menteri Pemuda dan Olah Raga Republik Indonesia, Bapak Tamsil Linrung, Anggota DPR RI, Bapak Dr. Anuar Tahir, Bapak Mustafa Kamil MA dari Malaysia, dan Ibu Nurul Izzah, sahabat-sahabat kita dari Malaysia, Saudara-saudara peserta Konferensi Pelajar Islam se-Asia Tanggara, Bapak Ibu dan Tamu undangan,
Marilah kita mengucapkan rasa syukur ke hadapan Allah Swt, atas limpahan taufik dan hidayahnya sehingga memungkinkan kita untuk bersama-sama hadir dalam pembukaan Konferensi Pelajar Islam se-Asia Tenggara. Shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, sang pembawa pencerahan dan revolusi multidemensional umat manusia baik di masa lalu, kini, maupun mendatang.
Pada kesempatan ini, kami mengucapkan selamat datang di Indonesia kepada saudara-saudara delegasi konferensi pelajar Islam se-Asia Tenggara dari Malaysia, Myanmar, Thailand, Singapura, dan Filipina. Kedatangan Anda sekalian diharapkan dapat meningkatkan hubungan persaudaraan antar bangsa serta memberikan inspirasi dan semangat baru bagi pergerakan mahasiswa di negara-negara Asia Tenggara.
Konferensi Pelajar Islam se-Asia Tenggara setidaknya memiliki tiga arti penting. Pertama, PEPIAT merupakan forum untuk meningkatkan silaturahim dan hubungan persaudaraan antara organisasi-organisasi pelajar, mahasiswa, dan pemuda dari berbagai negara di kawasan Asia Tenggara. Sejarah telah membuktikan bahwa hubungan antar umat Islam telah melebihi batas-batas politik negara bangsa. Keberadaan negara bangsa yang merupakan peninggalan kolonialisme seringkali memecah belah persaudaraan di antara kita dan menjadikan kita bermusuhan satu sama lain. Kita sebagai bangsa diberikan kesempatan untuk menentukan batas-batas negara kita melainkan ditentukan oleh penjajah.
Kedua, PEPIAT adalah sebagai forum untuk melakukan evaluasi dan merumuskan agenda pergerakan Islam di negara-negara Asia Tenggara. Kita semua sebagai kaum muda golongan terpelajar adalah bagian yang tak terpisahkan dari pergerakan Islam yang memperjuangkan terwujudnya tatanan masyarakat yang diridhoi Allah Swt. Umat islam pada dasarnya merupakan satu tubuh. Kita harus belajar dari sejarah mengapa umat Islam di Asia Tenggara selalu mengalami kemiskinan, keterbelakangan, ketertindasan, dan ketidakberdayaan.
Ketiga, PEPIAT sebagai forum konsolidasi organisasi-organisasi pelajar, mahasiswa, dan pemuda Islam untuk melawan segala ketidakadilan dan penindasan yang terjadi di negara-negara Asia Tenggara. Konsolidasi tersebut dapat dilakukan dengan merumuskan platform dan program perjuangan bersama. Segala ketidakdilan dan penindasan yang menimpa saudara-saudara kita di Thailand Selatan, Filipina Selatan, Myanmar, dan Malaysia pada dasarnya adalah persoalan kita semua. Kita harus menetapkan common enemy dan menarik garis batas yang jelas siapa yang harus menjadi musuh dan siapa yang menjadi kawan perjuangan.
Pembangunan industri di negara-negara Asia Tenggara yang semakin cepat meningkatkan peranan umat Islam terhadap stabilitas politik dan pembangunan ekonomi di kawasan secara keseluruhan sejak pertengahan tahun 1980-an. Kondisi Umat Islam di Asia Tenggara dapat dibedakan menjadi tiga. Pertama, menempati posisi mayoritas seperti di Indonesia yang merupakan negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Kedua, menggabungkan kepemimpinan muslim pragmatik dengan kemajuan ekonomi seperti di Malaysia. Ketiga, menjadi minoritas di negara-negara Thailand, Filipina, Myanmar, Laos, dan Singapura. Masalah yang dihadapi oleh minoritas Islam adalah bagaimana mempertahankan eksistensi agama dan komunitas Islam dari kebijakan-kebijakan asimiliasi budaya dan kekerasan politik yang dilakukan oleh negara.
Pembangunan pada satu sisi diakui mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kenaikan standar hidup dan kesejahteraan masyarakat. Namun pada sisi lain timbul pertanyaan untuk siapa pembangunan dilaksanakan dan sejauhmana pembangunan dapat dirasakan oleh masyarakat yang termarginalkan secara politik dan ekonomi, seperti yang dialami oleh minoritas Islam di Asia Tenggara. Hal ini lah yang diduga menjadi salah satu pemicu berkembangnya fundamentalisme agama. Ideologi untuk mengembalikan agama ke dalam tatanan sosial tidak semata-mata dilahirkan dalam konteks agama, melainkan berakar dari ketidakadilan secara politik, ekonomi, dan budaya yang dialami oleh golongan-golongan minoritas agama di tengah-tengah mayoritas nasional.
Kita harus membangun ideologi, nilai-nilai, karakteristik, posisi, dan peranan kaum muda Islam. Kita harus mampu mendekatkan diri dan bersatu dengan perasaan ketertindasan masyarakat. Simbol dan identitas Islam akan lebih bermakna jika mampu diterjemahkan ke dalam program-program politik yang berpihak kepada kaum lemah dan terpinggirkan. Pada tingkatan ideologi gerakan, Kita harus mampu mengembangkan ajaran Islam yang bervisi kerakyatan sebagai karakteristik utama. Islam yang menekankan kepada visi kerakyatan harus diterjemahkan secara nyata dalam program-progran kerja dan menjadi ideologi gerakan. Dengan demikian, kehadiran kita akan bermakna bagi kehidupan masyarakat.
Bilahitaufik wal hidayat, Wassalamualaikum Wr. Wb.
Jakarta, 7 April 2005 Ketua Umum PB-HMI
*Cahyo Pamungkas adalah Presiden Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia
| |
|
...DeMi MaSa yang menyaksikan!...
...BaCaLaH...
Ziarah ke Timur
Md. Salleh Yaapar dengan jelas memaparkan pertimbangan kritis tentang unsur-unsur dan aspek-aspek teori dan
metodologi kesusasteraan yang umumnya dikembangkan dalam konteks peradaban Barat moden dan pascamoden yang disogokkan
ke atas kesusasteraan tempatan. Selari dengan itu, buku ini juga menampilkan dengan tegas undur-unsur teori dan metodologi
kesusasteraan yang lebih berakar di bumi Timur dan yang lebih dirasakan kesesuaiannya untuk pemahaman dan penghayatan
kesusasteraan daripada iklim yang sama.
...BuSa SuKMa...
-YeLDeRiN MuJaHeD-
YELDERIN MUJAHED adalah nama pena kepada Mohd Mujahedd bin Mohd Nasir.
Beliau dilahirkan pada 17 Mac 1985 bersamaan dengan 25 Jumaada al-Thaany 1405 di Hospital Besar Ipoh, Perak.
Pada usia 18 tahun beliau melanjutkan pendidikan di kota bersejarah, Melaka.
Sebagai seorang berbintang Pisces yang lahir di tahun ox menurut kalender Cina, Mujahed adalah seorang Pencari,
bercita-cita tinggi, suka berkawan, pencinta seni dan pemikiran, suka berahsia, kadangkala suka bersendirian,
berkeyakinan padu tetapi mempunyai kelemahan sukar menerima sesuatu perkara dengan mudah dan keras hati menurut mereka yang mahir.
Ibu Mujahed ialah Khalidah Binti Yusof dan bertugas di FAMA (Federal Agricultural Marketing Authority).
Datuk beliau Yusof adalah berketurunan dari Bugis. Bapa Mujahed adalah Mohd Nasir bin Zakaria,
berasal dari Telok Anson dan merupakan pegawai dari Jabatan Perkhidmatan Haiwan Perak.
Keluarga Mujahed sebelah bapa adalah besar, melebar hingga ke Batu Bara berketurunan Melayu Mandeling pada sebelah datuknya.
Nenek dari sebelah bapanya berketurunan Raden Meka Terawih (Megat Terawis) berasal dari Pagar Ruyong dengan membawa nama keluarga Megat.
YELDERIN MUJAHED mendapat pendidikan awal di Taski ABIM an-Nur Rahman, kemudian di Sekolah Kebangsaan Jelapang Perak,
seterusnya di Sekolah Menengah Agama Ma'had al-Ummah sehingga ke Tingkatan Tiga. Lantaran kerana mahukan suasana berbeza,
Mujahed meneruskan pengajian di Sekolah Menengah Kebangsaan Raja Chulan Perak walaupun didesak oleh sebahagian gurunya
supaya meneruskan pengajian di bidang agama.
Mujahed kini menuntut di Universiti Multimedia (MMU) dalam bidang disiplin IT.
Bercita-cita mahu meneruskan pendidikan di bidang disiplin Sains Politik pada peringkat sarjana.
...Lain Pantai, Lainlah Ombaknya...
...DeMi uMMaT...

Justeru kekurangan kerna takdir Tuhan, bantulah mereka - yang memerlukan.

MaLaySia
iSTanBuL-TuRKiYe
Purun Harapan
April 2005
May 2005
September 2005
October 2005
November 2005
December 2005
January 2006
February 2006
May 2006
July 2006
September 2006
|
|
|
|